Teori Mie Instan

Standar

Oke, kali ini saya akan membahas tentang makanan yang banyak dijadikan “penyelamat” buat mahasiswa rantau yang lagi galau di tanggal tua …yep, MIE INSTAN (tepuk tangan).

Mie merupakan salah satu makanan yang bisa menggantikan nasi sebagai sumber karbohidrat. Bentuknya panjang, ada yang keriting, lurus, tebal atau tipis, berbahan dasar tepung. Karena itu, skarang banyak diproduksi mie instan untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa rantau tersebut (walopun bukan cuman mahasiswa yang doyan). Segala rasa disediakan, mulai dari rasa kaldu ayam, kari ayam, ayam bawang (my fav.), soto, bakso, dll. Dari yang berkuah sampe mie goreng, dari rasa makanan khas daerah Indonesia sampe cita rasa makanan luar negri pun ada! Kurang apa lagi coba. Mungkin ini cuma ada di Indonesia yak..

Dari semua cita rasa yang ditawarkan, ada beberapa hal kecil yang biasa dilakukan untuk membuat mie instanmu menjadi lebih enak untuk dinikmati…ini berdasarkan pengalaman pribadiku yahh ^_^v

Yang pertama…

Kamu bisa membuat mie instanmu menjadi lebih nikmat untuk dinikmati dengan menambahkan telur di dalamnya..lebih enak lagi kalo pake sosis,hehehe

Yang kedua

Kalo saya makan mie, paling suka kalo ditambahkan jeruk nipis dan kecap, boleh jg ditambah sambel…wuiihh..nikmatnya itu sampe tetes terakhir..ngiler!

Yang ketiga

Yang pernah makan mie instan pasti pernah membaca cara masaknya kan? Disuruhnya masak dalam air mendidih selama 3 menit untuk mendapatkan tekstur mie yang bagus, nah kalo Saya pernah memasak mie dengan api kecil dan sy tinggal untuk nonton, eh ternyata kebablasan…airnya sudah habis dan mienya jadi lembek banget. Yaa mau tidak mau ya harus dimakan, eh ternyata setelah dicampur bumbu jadi enak loh..(ya iyalah)..hahaha, tapi yang buat enak bukan cuman rasa bumbunya, teksturnya itu juga membuat sy ketagihan. Sayangnya untuk mendapatkan tekstur tersebut harus dengan tidak sengaja melupakan masakan mie kita di dapur, dan itu bakalan jarang terjadi 😀

Yang keempat

Paling ga suka kalo ada yg ganggu makan bukan? Yep itulah teori selanjutnya untuk mendapatkan kenikmatan saat menyantap mie instan mu. Jangan biarkan ada yang mengganggumu saat makan! baik itu minta nyicip sedikit, atau ngajak berbagi lauk, yaa intinya pelit dikitlah..hehehe (mungkin ini sy tulis karena sy memang pelit kali yak..)

Yang kelima

Mie instan ini sudah ada sejak lama. Seenggaknya sejak saya masih SD (tahun 1994), karena baru saat itu saya merasakan mie instan, tepatnya mie goreng instan, dan membuat saya jadi rindu banget makan mie goreng lagi. Waktu saya SD sering dikasi bekal mie goreng ke sekolah, pelengkapnya paling telur rebus ato bakso. Biasanya kita makan jam 10, pas keluar main. Yang pernah merasakan pasti setuju kalo aroma mie goreng yang baru dibuka dari tempat kue setelah ditinggal beberapa jam itu nikmat banget! Itulah yang akan membuat mie instanmu tambah enak buat disantap..mmmm yummii J

Yang keenam

Kalo yang ini pasti pernah kita lakukan waktu kecil (saat besar juga sih). Makan mie instan se instan-instannya..yaitu tidak dimasak alias dijadikan cemilan seperti kerupuk. Jadi caranya dengan menghancurkan mie instan (kalo sy biasanya pake Megah mie, mie sakura, indomie kaldu, ato mie goreng), trus bungkusnya dibuka, taburi bumbu dan bubuk cabenya sesuai selera, trus bungusnya diremas bagian atas dan dikocok sampe bumbu tercampur rata. Tadaa…mie instan kriuk siap dinikmati sendiri! 😀

Yang ketujuh

Mungkin ini yang terakhir dari saya gmn cara untuk mendapatkan cita rasa mie instanmu jadi lebih nikmat untuk disantap. Yaitu dengan meminta tolong orang lain untuk memasakkan mie instanmu.. serius! Selain karena memang kita jadi tidak repot, berdasarkan pengalaman saya cita rasa mie instan yang dibuat oleh orang lain itu lebih nikmat dibanding dgn yang kita masak sendiri loh. Kalo perlu saya tukaran sama adek saya, saya masak mie buat dia dan dia masak mie buat saya. Itu demi menikmati mie instan yang lebih nikmat dari biasanya..:P

Yah mungkin itu saja teori mie instan yang bisa saya bagi kepada teman2 skalian..silahkan dicoba kalo tertarik..hehehe. Sapatau kalian juga punya cara membuat mie instan jd lebih nikmat disantap tolong di share sama saya yah…^_^v. Wassalam.

mks231114mie goreng mie kuah

“Tata Cara Mandi Wajib” copy link http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/tata-cara-mandi-wajib.html

Standar

assalamu’alaykum sodara-sodara…

hwaahh..ane baru muncul lagi ni di blog, dan sekedar info..saya tambah gemuk sodara-sodara 😀 (#abaikan!)

yep, hari ni saya mau bagi-bagi duit info saja tentang gimana tata cara mandi wajib. Buat kaum hawa yang sudah dapat menstruasi atau haid, kudu tau nih. Buat kaum adam juga yang sudah masuk masa baligh wajib hukumnya ngerti hal ini. oke,cekidot!

Saat ini kami akan memaparkan serial kedua dari tiga serial secara keseluruhan tentang tata cara mandi wajib (al ghuslu). Semoga pembahasan kali ini bermanfaat.

Niat, Syarat Sahnya Mandi

Para ulama mengatakan bahwa di antara fungsi niat adalah untuk membedakan manakah yang menjadi kebiasaan dan manakah ibadah. Dalam hal mandi tentu saja mesti dibedakan dengan mandi biasa. Pembedanya adalah niat. Dalam hadits dari ‘Umar bin Al Khattab, Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

Rukun Mandi

Hakikat mandi adalah mengguyur seluruh badan dengan air, yaitu mengenai rambut dan kulit.

Inilah yang diterangkan dalam banyak hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya adalah hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menceritakan tata cara mandi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جَسَدِهِ كُلِّهِ

Kemudian beliau mengguyur air pada seluruh badannya.” (HR. An Nasa-i no. 247. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, “Penguatan makna dalam hadits ini menunjukkan bahwa ketika mandi beliau mengguyur air ke seluruh tubuh.”[1]

Dari Jubair bin Muth’im berkata, “Kami saling memperbincangkan tentang mandi janabah di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda,

أَمَّا أَنَا فَآخُذُ مِلْءَ كَفِّى ثَلاَثاً فَأَصُبُّ عَلَى رَأْسِى ثُمَّ أُفِيضُهُ بَعْدُ عَلَى سَائِرِ جَسَدِى

Saya mengambil dua telapak tangan, tiga kali lalu saya siramkan pada kepalaku, kemudian saya tuangkan setelahnya pada semua tubuhku.” (HR. Ahmad 4/81. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari Muslim)

Dalil yang menunjukkan bahwa hanya mengguyur seluruh badan dengan air itu merupakan rukun (fardhu) mandi dan bukan selainnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah. Ia mengatakan,

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى امْرَأَةٌ أَشُدُّ ضَفْرَ رَأْسِى فَأَنْقُضُهُ لِغُسْلِ الْجَنَابَةِ قَالَ « لاَ إِنَّمَا يَكْفِيكِ أَنْ تَحْثِى عَلَى رَأْسِكِ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ ثُمَّ تُفِيضِينَ عَلَيْكِ الْمَاءَ فَتَطْهُرِينَ ».

Saya berkata, wahai Rasulullah, aku seorang wanita yang mengepang rambut kepalaku, apakah aku harus membuka kepangku ketika mandi junub?” Beliau bersabda, “Jangan (kamu buka). Cukuplah kamu mengguyur air pada kepalamu tiga kali, kemudian guyurlah yang lainnya dengan air, maka kamu telah suci.” (HR. Muslim no. 330)

Dengan seseorang memenuhi rukun mandi ini, maka mandinya dianggap sah, asalkan disertai niat untuk mandi wajib (al ghuslu). Jadi seseorang yang mandi di pancuran atau shower dan air mengenai seluruh tubuhnya, maka mandinya sudah dianggap sah.

Adapun berkumur-kumur (madhmadhoh), memasukkan air dalam hidung (istinsyaq) dan menggosok-gosok badan (ad dalk) adalah perkara yang disunnahkan menurut mayoritas ulama.[2]

Tata Cara Mandi yang Sempurna

Berikut kita akan melihat tata cara mandi yang disunnahkan. Apabila hal ini dilakukan, maka akan membuat mandi tadi lebih sempurna. Yang menjadi dalil dari bahasan ini adalah dua dalil yaitu hadits dari ‘Aisyah dan hadits dari Maimunah.

Hadits pertama:

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ بَدَأَ فَغَسَلَ يَدَيْهِ ، ثُمَّ يَتَوَضَّأُ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلاَةِ ، ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِى الْمَاءِ ، فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُولَ شَعَرِهِ ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ غُرَفٍ بِيَدَيْهِ ، ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ

Dari ‘Aisyah, isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi junub, beliau memulainya dengan mencuci kedua telapak tangannya. Kemudian beliau berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Lalu beliau memasukkan jari-jarinya ke dalam air, lalu menggosokkannya ke kulit kepalanya, kemudian menyiramkan air ke atas kepalanya dengan cidukan kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengalirkan air ke seluruh kulitnya.” (HR. Bukhari no. 248 dan Muslim no. 316)

Hadits kedua:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَتْ مَيْمُونَةُ وَضَعْتُ لِرَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مَاءً يَغْتَسِلُ بِهِ ، فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ ، فَغَسَلَهُمَا مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا ، ثُمَّ أَفْرَغَ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ ، فَغَسَلَ مَذَاكِيرَهُ ، ثُمَّ دَلَكَ يَدَهُ بِالأَرْضِ ، ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ ثُمَّ غَسَلَ رَأْسَهُ ثَلاَثًا ، ثُمَّ أَفْرَغَ عَلَى جَسَدِهِ ، ثُمَّ تَنَحَّى مِنْ مَقَامِهِ فَغَسَلَ قَدَمَيْهِ

Dari Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Maimunah mengatakan, “Aku pernah menyediakan air mandi untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau menuangkan air pada kedua tangannya dan mencuci keduanya dua kali-dua kali atau tiga kali. Lalu dengan tangan kanannya beliau menuangkan air pada telapak tangan kirinya, kemudian beliau mencuci kemaluannya. Setelah itu beliau menggosokkan tangannya ke tanah. Kemudian beliau berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung. Lalu beliau membasuh muka dan kedua tangannya. Kemudian beliau membasuh kepalanya tiga kali dan mengguyur seluruh badannya. Setelah itu beliau bergeser dari posisi semula lalu mencuci kedua telapak kakinya (di tempat yang berbeda).” (HR. Bukhari no. 265 dan Muslim no. 317)

Dari dua hadits di atas, kita dapat merinci tata cara mandi yang disunnahkan sebagai berikut.

Pertama: Mencuci tangan terlebih dahulu sebanyak tiga kali sebelum tangan tersebut dimasukkan dalam bejana atau sebelum mandi.

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah mengatakan, “Boleh jadi tujuan untuk mencuci tangan terlebih dahulu di sini adalah untuk membersihkan tangan dari kotoran … Juga boleh jadi tujuannya adalah karena mandi tersebut dilakukan setelah bangun tidur.”[3]

Kedua: Membersihkan kemaluan dan kotoran yang ada dengan tangan kiri.

Ketiga: Mencuci tangan setelah membersihkan kemaluan dengan menggosokkan ke tanah atau dengan menggunakan sabun.

An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Disunnahkan bagi orang yang beristinja’ (membersihkan kotoran) dengan air, ketika selesai, hendaklah ia mencuci tangannya dengan debu atau semacam sabun, atau hendaklah ia menggosokkan tangannya ke tanah atau tembok untuk menghilangkan kotoran yang ada.”[4]

Keempat: Berwudhu dengan wudhu yang sempurna seperti ketika hendak shalat.

Asy Syaukani rahimahullah mengatakan, “Adapun mendahulukan mencuci anggota wudhu ketika mandi itu tidaklah wajib. Cukup dengan seseorang mengguyur badan ke seluruh badan tanpa didahului dengan berwudhu, maka itu sudah disebut mandi (al ghuslu).”[5]

Untuk kaki ketika berwudhu, kapankah dicuci?

Jika kita melihat dari hadits Maimunah di atas, dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau membasuh anggota wudhunya dulu sampai membasuh kepala, lalu mengguyur air ke seluruh tubuh, sedangkan kaki dicuci terakhir. Namun hadits ‘Aisyah menerangkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu secara sempurna (sampai mencuci kaki), setelah itu beliau mengguyur air ke seluruh tubuh.

Dari dua hadits tersebut, para ulama akhirnya berselisih pendapat kapankah kaki itu dicuci. Yang tepat tentang masalah ini, dua cara yang disebut dalam hadits ‘Aisyah dan Maimunah bisa sama-sama digunakan. Yaitu kita bisa saja mandi dengan berwudhu secara sempurna terlebih dahulu, setelah itu kita mengguyur air ke seluruh tubuh, sebagaimana disebutkan dalam riwayat ‘Aisyah. Atau boleh jadi kita gunakan cara mandi dengan mulai berkumur-kumur, memasukkan air dalam hidup, mencuci wajah, mencuci kedua tangan, mencuci kepala, lalu mengguyur air ke seluruh tubuh, kemudian kaki dicuci terakhir.

Syaikh Abu Malik hafizhohullah mengatakan, “Tata cara mandi (apakah dengan cara yang disebut dalam hadits ‘Aisyah dan Maimunah) itu sama-sama boleh digunakan, dalam masalah ini ada kelapangan.”[6]

Kelima: Mengguyur air pada kepala sebanyak tiga kali hingga sampai ke pangkal rambut.

Keenam: Memulai mencuci kepala bagian kanan, lalu kepala bagian kiri.

Ketujuh: Menyela-nyela rambut.

Dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ غَسَلَ يَدَيْهِ ، وَتَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ اغْتَسَلَ ، ثُمَّ يُخَلِّلُ بِيَدِهِ شَعَرَهُ ، حَتَّى إِذَا ظَنَّ أَنْ قَدْ أَرْوَى بَشَرَتَهُ ، أَفَاضَ عَلَيْهِ الْمَاءَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ، ثُمَّ غَسَلَ سَائِرَ جَسَدِهِ

Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mandi junub, beliau mencuci tangannya dan berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Kemudian beliau mandi dengan menggosok-gosokkan tangannya ke rambut kepalanya hingga bila telah yakin merata mengenai dasar kulit kepalanya, beliau mengguyurkan air ke atasnya tiga kali. Lalu beliau membasuh badan lainnya.” (HR. Bukhari no. 272)

Juga ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,

كُنَّا إِذَا أَصَابَتْ إِحْدَانَا جَنَابَةٌ ، أَخَذَتْ بِيَدَيْهَا ثَلاَثًا فَوْقَ رَأْسِهَا ، ثُمَّ تَأْخُذُ بِيَدِهَا عَلَى شِقِّهَا الأَيْمَنِ ، وَبِيَدِهَا الأُخْرَى عَلَى شِقِّهَا الأَيْسَرِ

Jika salah seorang dari kami mengalami junub, maka ia mengambil air dengan kedua tangannya dan disiramkan ke atas kepala, lalu mengambil air dengan tangannya dan disiramkan ke bagian tubuh sebelah kanan, lalu kembali mengambil air dengan tangannya yang lain dan menyiramkannya ke bagian tubuh sebelah kiri.” (HR. Bukhari no. 277)

Kedelapan: Mengguyur air pada seluruh badan dimulai dari sisi yang kanan setelah itu yang kiri.

Dalilnya adalah hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِى تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِى شَأْنِهِ كُلِّهِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mendahulukan yang kanan ketika memakai sendal, ketika bersisir, ketika bersuci dan dalam setiap perkara (yang baik-baik).”  (HR. Bukhari no. 168 dan Muslim no. 268)

Mengguyur air ke seluruh tubuh di sini cukup sekali saja sebagaimana zhohir (tekstual) hadits yang membicarakan tentang mandi. Inilah salah satu pendapat dari madzhab Imam Ahmad dan dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.[7]

Bagaimanakah Tata Cara Mandi pada Wanita?

Tata cara mandi junub pada wanita sama dengan tata cara mandi yang diterangkan di atas sebagaimana telah diterangkan dalam hadits Ummu Salamah, “Saya berkata, wahai Rasulullah, aku seorang wanita yang mengepang rambut kepalaku, apakah aku harus membuka kepangku ketika mandi junub?” Beliau bersabda, “Jangan (kamu buka). Cukuplah kamu mengguyur air pada kepalamu tiga kali, kemudian guyurlah yang lainnya dengan air, maka kamu telah suci.” (HR. Muslim no. 330)

Untuk mandi karena haidh dan nifas, tata caranya sama dengan mandi junub namun ditambahkan dengan beberapa hal berikut ini:

Pertama: Menggunakan sabun dan pembersih lainnya beserta air.

Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

أَنَّ أَسْمَاءَ سَأَلَتِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ غُسْلِ الْمَحِيضِ فَقَالَ « تَأْخُذُ إِحْدَاكُنَّ مَاءَهَا وَسِدْرَتَهَا فَتَطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ دَلْكًا شَدِيدًا حَتَّى تَبْلُغَ شُئُونَ رَأْسِهَا ثُمَّ تَصُبُّ عَلَيْهَا الْمَاءَ. ثُمَّ تَأْخُذُ فِرْصَةً مُمَسَّكَةً فَتَطَهَّرُ بِهَا ». فَقَالَتْ أَسْمَاءُ وَكَيْفَ تَطَهَّرُ بِهَا فَقَالَ « سُبْحَانَ اللَّهِ تَطَهَّرِينَ بِهَا ». فَقَالَتْ عَائِشَةُ كَأَنَّهَا تُخْفِى ذَلِكَ تَتَبَّعِينَ أَثَرَ الدَّمِ. وَسَأَلَتْهُ عَنْ غُسْلِ الْجَنَابَةِ فَقَالَ « تَأْخُذُ مَاءً فَتَطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُورَ – أَوْ تُبْلِغُ الطُّهُورَ – ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ حَتَّى تَبْلُغَ شُئُونَ رَأْسِهَا ثُمَّ تُفِيضُ عَلَيْهَا الْمَاءَ »

Asma’ bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang mandi wanita haidh. Maka beliau bersabda, “Salah seorang dari kalian hendaklah mengambil air dan daun bidara, lalu engkau bersuci, lalu membaguskan bersucinya. Kemudian hendaklah engkau menyiramkan air pada kepalanya, lalu menggosok-gosoknya dengan keras hingga mencapai akar rambut kepalanya. Kemudian hendaklah engkau menyiramkan air pada kepalanya tadi. Kemudian engkau mengambil kapas bermisik, lalu bersuci dengannya. Lalu Asma’ berkata, “Bagaimana dia dikatakan suci dengannya?” Beliau bersabda, “Subhanallah, bersucilah kamu dengannya.” Lalu Aisyah berkata -seakan-akan dia menutupi hal tersebut-, “Kamu sapu bekas-bekas darah haidh yang ada (dengan kapas tadi)”. Dan dia bertanya kepada beliau tentang mandi junub, maka beliau bersabda, ‘Hendaklah kamu mengambil air lalu bersuci dengan sebaik-baiknya bersuci, atau bersangat-sangat dalam bersuci kemudian kamu siramkan air pada kepala, lalu memijatnya hingga mencapai dasar kepalanya, kemudian mencurahkan air padanya’.” (HR. Bukhari no. 314 dan Muslim no. 332)

Kedua: Melepas kepangan sehingga air sampai ke pangkal rambut.

Dalil hal ini adalah hadits yang telah lewat,

ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ دَلْكًا شَدِيدًا حَتَّى تَبْلُغَ شُئُونَ رَأْسِهَا

Kemudian hendaklah kamu menyiramkan air pada kepalanya, lalu menggosok-gosoknya dengan keras hingga mencapai akar rambut kepalanya.” Dalil ini menunjukkan tidak cukup dengan hanya mengalirkan air seperti halnya mandi junub. Sedangkan mengenai mandi junub disebutkan,

ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ حَتَّى تَبْلُغَ شُئُونَ رَأْسِهَا ثُمَّ تُفِيضُ عَلَيْهَا الْمَاءَ

Kemudian kamu siramkan air pada kepala, lalu memijatnya hingga mencapai dasar kepalanya, kemudian mengguyurkan air padanya.

Dalam mandi junub tidak disebutkan “menggosok-gosok dengan keras”. Hal ini menunjukkan bedanya mandi junub dan mandi karena haidh/nifas.

Ketiga: Ketika mandi sesuai masa haidh, seorang wanita disunnahkan membawa kapas atau potongan kain untuk mengusap tempat keluarnya darah guna menghilangkan sisa-sisanya. Selain itu, disunnahkan mengusap bekas darah pada kemaluan setelah mandi dengan minyak misk atau parfum lainnya. Hal ini dengan tujuan untuk menghilangkan bau yang tidak enak karena bekas darah haidh.

Perlukah Berwudhu Seusai Mandi?

Cukup kami bawakan dua riwayat tentang hal ini,

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ لاَ يَتَوَضَّأُ بَعْدَ الْغُسْلِ

Dari ‘Aisyah, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berwudhu setelah selesai mandi.” (HR. Tirmidzi no. 107, An Nasai no. 252, Ibnu Majah no. 579, Ahmad 6/68. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Sebuah riwayat dari Ibnu ‘Umar,

سُئِلَ عَنِ الْوُضُوءِ بَعْدَ الْغُسْلِ؟ فَقَالَ:وَأَيُّ وُضُوءٍ أَعَمُّ مِنَ الْغُسْلِ؟

Beliau ditanya mengenai wudhu setelah mandi. Lalu beliau menjawab, “Lantas wudhu yang mana lagi yang lebih besar dari mandi?” (HR. Ibnu Abi Syaibah secara marfu’ dan mauquf[8])

Abu Bakr Ibnul ‘Arobi  berkata, “Para ulama tidak berselisih pendapat bahwa wudhu telah masuk dalam mandi.” Ibnu Baththol juga telah menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) dalam masalah ini.[9]

Penjelasan ini adalah sebagai alasan yang kuat bahwa jika seseorang sudah berniat untuk mandi wajib, lalu ia mengguyur seluruh badannya dengan air, maka setelah mandi ia tidak perlu berwudhu lagi, apalagi jika sebelum mandi ia sudah berwudhu.

Apakah Boleh Mengeringkan Badan dengan Handuk Setelah Mandi?

Di dalam hadits Maimunah disebutkan mengenai tata cara mandi, lalu diakhir hadits disebutkan,

فَنَاوَلْتُهُ ثَوْبًا فَلَمْ يَأْخُذْهُ ، فَانْطَلَقَ وَهْوَ يَنْفُضُ يَدَيْهِ

Lalu aku sodorkan kain (sebagai pengering) tetapi beliau tidak mengambilnya, lalu beliau pergi dengan mengeringkan air dari badannya dengan tangannya” (HR. Bukhari no. 276). Berdasarkan hadits ini, sebagian ulama memakruhkan mengeringkan badan setelah mandi. Namun yang tepat, hadits tersebut bukanlah pendukung pendapat tersebut dengan beberapa alasan:

  1. Perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika itu masih mengandung beberapa kemungkinan. Boleh jadi beliau tidak mengambil kain (handuk) tersebut karena alasan lainnya yang bukan maksud untuk memakruhkan mengeringkan badan ketika itu. Boleh jadi kain tersebut mungkin sobek atau beliau buru-buru saja karena ada urusan lainnya.
  2. Hadits  ini malah menunjukkan bahwa kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mengeringkan badan sehabis mandi. Seandainya bukan kebiasaan beliau, maka tentu saja beliau tidak dibawakan handuk ketika itu.
  3. Mengeringkan air dengan tangan menunjukkan bahwa mengeringkan air dengan kain bukanlah makruh karena keduanya sama-sama mengeringkan.

Kesimpulannya, mengeringkan air dengan kain (handuk) tidaklah mengapa.[10]

Demikian pembahasan kami seputar mandi wajib (al ghuslu). Tata cara di atas juga berlaku untuk mandi yang sunnah yang akan kami jelaskan pada tulisan selanjutnya (serial ketiga atau terakhir).

Semoga bermanfaat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

Selesai susun di wisma MTI, 7 Jumadits Tsani 1431 H (20/05/2010)

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id


[1] Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 1/361, Darul Ma’rifah, 1379.

[2] Penjelasannya silakan lihat di Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, 1/173-174 dan 1/177-178, Al Maktabah At Taufiqiyah.

[3] Fathul Bari, 1/360.

[4] Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, 3/231, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobi, 1392.

[5] Ad Daroril Mudhiyah Syarh Ad Duroril Bahiyyah, Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani, hal. 61, Darul ‘Aqidah, terbitan tahun 1425 H.

[6] Shahih Fiqh Sunnah, 1/175-176.

[7] Al Ikhtiyaarot Al Fiqhiyah li Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, ‘Alauddin Abul Hasan ‘Ali bin Muhammad Al Ba’li Ad Dimasyqi Al Hambali, hal. 14, Mawqi’ Misykatul Islamiyah.

[8] Lihat Ad Daroril Mudhiyah, hal. 61

[9] Idem.

[10] Shahih Fiqh Sunnah, 1/181.

Bertanya Pada Anak

Standar

bagaimana kondisi kalian sekarang wahai anak2 Palestina?..
ummi abi kalian bagaimana?kawan2 kalian?rumah kalian?skolah kalian?

bsok rencana berapa tentara Israel yang akan kalian lempari batu? yg akan kalian bunuh?

gmn rasax berjuang djalan Allah..mempertaruhkan nyawa kalian,berhadapan dengan tank2 besar,roket2,bom2 yg senantiasa berdentum keras?

bagaimana rasax melihat ummi abi,keluarga dan teman2 kalian dbunuh ddpn mata? bagaimana rasax tiap hari melihat darah mengalir dari tubuh saudara2 muslim kalian? bgmn rasax slalu mendengar dentuman bom dan rentetan senjata?

apa kalian masih kuat?ingin menyerahkah kalian?ingin menangiskah kalian?adakah yg memeluk erat kalian saat kalian takut?

dgn sypkah kalian biasax berbagi rasa? cukupkah perhatian kami kpd kalian yg jauh dluar sini?

duhai anak2 Palestina..apakah yg ingin kalian katakan saat ini?? sampaikanlah..sampaikanlah pada kami..yg seharusx mendengar dan melindungi kalian!

*dariku yg hanya bisa bertanya dan berkata maaf… 😥 😥

amal,amal,amal,,,pahala,pahala,pahala,,,,

Standar

oleh Andi Naimah Muchlis (Catatan) pada 20 Desember 2010 pukul 14:42

Saudaraku, tidakkah engkau merindukan pahala yang besar? Sebab hidup di dunia tempat kita beramal, mengumpulkan pahala, sebab hidup hanya sebentar, cuman singgah kok….:)

Tak banyak ingin kusampaikan, hanya sedikit dari banyak pesan Nabi . bukan ingin menggurui, hanya ingin ber-amar ma’ruf nahi munkar. Tidakkah kita merindukan pahala yang besar?^^/

Pertama, sembahlah Allah saja, jangan engkau menyekutukan-Nya!

“Dan sesungguhnya Kami mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu’.” (Al-A’raf:36)

Kedua, berdakwalah kepada kebaikan di manapun berada.

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shaleh dan berkata,’Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?’” (Fushshilat:33)

“Barang siapa menunjukkan kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala pelakunya.” (HR. Muslim)

“Orang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar terhadap gangguan mereka lebih besar pahlanya daripada orang mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar menghadapi gangguan mereka.” (HR. Ibnu Majah)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa menunjukkan kepada hidayah, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka baginya dosa seperti dosa orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim)

Ketiga, berbuat baiklah kepada orang lain,,,sungguh,,berbuat baiklah!

“Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi mereka. Dan amal yang paling dicintai Allah adalah pahala memasukkan kesenangan ke dalam hati seorang muslim, atau menyelesaikan satu kesulitannya, atau membayar hutangnya, atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh berjalan bersama seorang saudara yang sedang membutuhkan itu lebih kusukai daripada I’tikaf di masjid ini- yaitu masjid Rasulullah- selama sebulan. Barang siapa menahan amarahnya, maka Allah akan menutupi aibnya. Barang siapa menahan murkanya yang seandainya ia mau melampiaskannya pasti bisa melampiaskannya, maka Allah mengisi hatinya dengan harapan di Hari Kiamat. Barang siapa berjalan dengan saudaranya yang membutuhkan hingga kebutuhannya itu terpenuhi, maka Allah meneguhkan kakinya pada saat kaki-kaki tergelincir. Sesungguhnya akhlak yang buruk itu merusak amal sebagaimana cuka merusak madu.” (HR. Ibnu Abi Dunya)

Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Muslim itu saudara muslim, tidak boleh menzhaliminya dan tidak boleh menyerahkannya kepada musuh . Barang siapa menanggung kebutuhan saudaranya, maka Allah menanggung kebutuhannya. Barang siapa memudahkan kesulitan bagi seorang Muslim, maka Allah memudahkan baginya satu kesulitan di antara kesulitan-kesulitan Hari Kiamat. Dan barang siapa menutupi aib seorang Muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada Hari Kiamat.” (HR. Bukhari)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “ Barang siapa meringankan satu kesulitan dunia bagi seorang mukmin, maka Allah memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Barang siapa menutup aib seorang Muslim, maka Allah menutup aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya. Setiap kali suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah untuk membaca Kitab Allah dan mempelajarinya, maka ketenangan turun pada mereka, mereka diselimuti rahmat, para malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut-nyebut nama mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya. Barang siapa yang lambat amalnya, maka tidak bisa dipercepat oleh nasabnya.

Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Perbuatan-perbuatan ma’ruf dapat mencegah kematian yang buruk. Sedekah secara sembunyi-sembunyi dapat memadamkan murka Tuhan. Silaturahmi dapat menambah umur, dan setiap perkara ma’ruf adalah sedekah. Ahli ma’ruf di dunia adalah ahli ma’ruf di akhirat. Ahli kemungkaran di dunia adalah ahli kemungkaran di akhirat.” (HR. Thabrani)

Wallahu ‘alam bishshawab…

“Terima kasih pada orang-orang yang telah banyak berbuat baik di dunia ini tanpa mempersekutukan Allah”^_^

Semangat Pagi

Standar

01022013
Alhamdulillahilladzii ahyaana ba’dana wailaihinnusyuur..
Hoaahmm..
Pagi yang cerah berawan..masih jam 6, hari ini harus berangkat kerja stelah 2 hr libur,,tapi flu yg melandaku spertinya membuatku enggan beranjak dari kasur empukku..
Tapi tiba bunyi hape menyadarkanku dari kantuk,sebuah WhatsApp dari teman lama yg beberapa bulan ini cukup sering menanyakan keadaanku..dan pagi ini dia kmbali memberiku semangat untuk memulai aktivitasku..anyway thanks for the spirit 🙂

Rasa senang dan semangat yang saya rasakan pagi ini karena sapaan kecil dari teman lama memberiku inspirasi untuk memberikan hal serupa pada teman2ku yg lain..yaah sapaan kecil dipagi hari melalui sms atau WA mungkin hal biasa menurut sbagian orang. Namun menurut para pencari pahala, memberikan senyum pada orang lain itu bernilai besar,sebab tak ada ibadah yg bisa dianggap remeh.. Dalam islam, memberikan wajah ceria pada orang yg qt jumpai itu adalah sedekah..apalagi ini adalah hari jum’at..ooh i love jum’at..

Oke..so let’s start it..berbagi senyum,keceriaan,dan semangat pagi di hari ini..
Smangad paagii.. 🙂 🙂 🙂 ^0^/

08.38 @ pete2 BTP